Dengan Spanduk Dunia akan Berubah

Sebuah spanduk yang terpajang di dipinggir jalan dengan sebuah ucapan selamat....... atau dengan kata sebuah ajakan untuk membangun.................... dan tak cukup hanya dengan sebuah spanduk maka dibutuhkan sebuah karangan bunga dengan tulisan berupa selamat atas.................

Sepertinya ucapan selamat yang diungkapan melalui lisan terasa kurang afdol sehingga diperlukan sebuah spanduk. Dan untuk mengucapkan itu semua tak tanggung-tanggung dengan ukuran spanduk yang berukuran besar terkadang sampai berukurang 3x2 M atau mungkin lebih. Tak puas hanya dengan spanduk hanya untuk mengucapkan kata “ucapan selamat,” maka karangan bunga ikut-ikutan memeriahkan acara ucapan selamat.

Ucapan “selamat” yang pada mulanya hanya cukup dengan ucapan langsung, lalu pada sebuah kartu ucapan dan kini merembat pada spanduk, begitupula karangan bunga. Dan tak puas dengan hanya mengucapkan selamat, spanduk-spanduk digunakan untuk mengajak seseorang, seperti belum lama terlihat ada beberapa sepanduk dalam terhitung sekitar mencapai 10 spanduk yang berderet hanya berjarak berkisar 3 meter. Sebuah foto yang terpajang dengan ukapan untuk perubahan..........................., janji terobral begitu mudahnya.

Kata-kata perubahanpun terucap oleh yang spanduk-spanduk yang lain. antar sepanduk berperang untuk menciptakan perubahan. Dan sepertinya meraka asik sendiri sehingga menciptkan dunia tersendiri. Dan saya akan menyebutnya dengan dunia spanduk, dunia yang mampu memberikan perubahan, dan setiap spanduk yang telah dicipatkan mempunyai ajian yang dapat memberikan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

Begitu pula dunia yang lain, yang belum sempat disebutkan, yakni dunia karangan bunga. Karangan bunga kira-kira hanya bertahan dalam hitungan hari telah memeriahkan acara-acara ucapan. Lalu jika digabungkan antara dunia spanduk dan dunia karangan bunga akan tercipta dunia yang terdiri dari spanduk dan karangan bunga.

Untuk menghadirkan kedua dibutuhkan sebuah biaya tak bisa dibilang murah, setiap spanduk dalam hitungan satu meter berkisar Rp 20.000, sedangakan karang bunga menurut data yang didapat dari seseorang yang pernah bekerja dikarangan bunga dapat mencapai sekitar Rp 700.000. Bisa terbanyangkan berapa jumlah uang yang akan dikelurakan, teruma jika keduannya bergabung. Dan hanya untuk menciptkan dunia tersebut.

Anggaran yang dikeluarkan cukup lumanya akan benar terciptanya perubahan, jika setiap orang yang menciptkan dunia itu beralih, seperti ke dunia pendidikan. Untuk dunia pendidikan sepertinya semua sudah paham tentang seberapa penting dunia pendidikan, dan sepertinya dunia ini lebih jelas untuk menciptkan perubahan, jika dibandingkan dengan dunia spanduk dan dunia karangan bunga.

Hal tersebut akan terjadi jika sang pengujar pada spanduk atau karangan bunga. Dan apa yang mereka harapkan terhadap perubahan semakin mungkin akan terlaksana. Belum lagi keberadaan mereka yang akan lebih terasa di hati masyarakat. Karena masyarakat lebih membutuhkanya dari pada dipaksa untuk memandang spanduk yang terpajang di pinggir jalan.

Apalagi jika sang pengujar merupakan seorang pemimpin, tentunya apa yang diharapakan dari ajakan akan lebih berarti jika ia mau mengerjakannya terlebih dahulu. atas apa yang dikerjakan maka dengan sendirinya sebuah gagasan akan hadir, dengan demikian apa yang telah digagas oleh tiga serangkai dengan tut wuri handayani, atau aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Adapun arti dari semboyan ini adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik). Sebab seorang pemimpin juga merupakan guru bangsa yang akan membawa bangsa ini kemana? Dan seandainya semua guru bangsa bersikap demikian maka perbuhan yang digombor-gemborkan tak hanya terdapat dalam dunia sepanduk

Dari Jalanan ke Pengadilan

Cetusan yang terlontar begitu saja dari seseorang, mungkin makian tak hanya itu saja saat anda berada di jalan raya. Luapan yang datang dari orang yang hendak menyebrang atau pejalan kaki terhadap para pengendara kendaraan. Dan sepertinya jalan raya tak akan lepas dari salah menyelahkan, seperti halnya orang yang menyalahkan sepeda motor, ada juga yang menyalahkan angkutan umum, angkutan umum menyalahkan mobil pribadi.

Lalu siapa sesungguh yang salah, kenapa mereka merasa perlu menyalahkannya? Apa yang menjadi penyebab itu semua, terlalu banyak alasan yang bisa digunakan. Dan untuk itu tulisan ini bukan hendak menjadi asal-usul dari penyebab.

Dunia jalanan mungkin sudah tak asing lagi dari permainan tentang maki-memaki, luapan bahkan sudah menjadi santapan sehari-sehari. Tentunya apa yang terjadi di jalanan, berbeda dengan di pengadilan. Jika di pengadilan ada yang salah akan dibela mati-matian untuk melepaskan diri dari segala macam kesalahannya, jika perlu sang pemutus hukuman akan dibuat tak berdaya.

Pengadilan pun seperti pertarungan antara Tom dan Jerri, lalu penonton akan tertawa terbahak-hak menyaksikan itu semua. terutama saat si Tom merasa kebingunan untuk kelihaian si Jerri saat ia mempermainkan bukti. Dan pada akhirnya cerita telah berubah sang terdakwa telah dibebaskan.

Peristiwa ini mengingatkan pada sebuah lagu yang di tulis oleh penyair Taufik Ismail dan pernah populer saat dinyanyikan oleh Akhmad Akbar dengan judul panggung sandiwara. Ada pun lirik tersebut;
dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara
Dunia ini panggung sandiwara
ceritanya mudah berubah,
kisah mahabrata atau tragedi dari Yunani,
mengapa kita bersandiwara
mengapa kita bersandiwara


Maka silahkan amati saja kenapa pada akhirnya panggung sandiwara

Tragedi Telah Berlalu

Saya akan memulainya tulisan ini , dengan sebuah judul lagu yang berjudul Badai Pasti Berlalu yang pernah dinyanyikan oleh penyanyi om Krise, dan juga difilmkan dengan judul yang sama. Dalam film tersebut, sekedar sekilas menggambarkan tentang film tersebut mengisahkan tentang kisah percintaan seorang perempuan yang mempunyai penyakit glukosa yang bernama Siska, yang diperankan oleh Raihaanun dengan seorang pria yang bernama pria bernama Leo, diperankan oleh Vino G. Bastian.

Kisah cinta yang terjalin diantara mengalami polemik setelah Siska mengetahui tentang taruhan yang dilakukan oleh Leo dengan teman-teman. Atas peristiwa tersebut pada akhirnya untuk kedua kalinya Siska mengalami kegagalan dalam percintaan, yang sebelum menjalin kasih dengan Leo yang masih masih merupakan sahabat dari kakaknya.

Hari-hari pun berlalu dan selanjutnya Siska memutuskan untuk menikah, badai pun menerpa perjalanan keluarganya. Akhirnya perceraian tak dapat dielakan tatkala kematian anak yang merupakan hasil dari pernikahannya dengan seorang manajer kafe, bernama Helmi yang diperankan oleh Winky Wiryawan. Dan selanjutnya bagaimana film tersebut, tentunya bagi yang pernah menyaksikan akan lebih memahaminya.

Mungkin itu pula yang menjadikan film tersebut berjudul Badai Pasti Berlalu, bahwa sebuah sebuah tragedi pasti akan berlalu. Sebagaimana yang melanda dengan Situ gintung, sebuah bendungan yang terletak di perbatasan antara Tangsel (Tanggerang Selatan) dengan Daerah Khusus Ibukota (DKI). Yang tepatnya berada di kawasan Desa Cireundeu, Kecamatan Ciputat Timur.

Sebuah bendungan yang tak mampu menahan air sehingga bendungan tersebut jebol, atas tragedi yang terjadi pada 27 Maret 2009 Jum’at dini hari, atas peristiwa tersebut memakan korban jiwa yang hingga menewaskan 100 orang dan meluluntahkan beberapa bangunan penduduk.

Namun itu kini semua telah berubah, tragedi yang melanda telah berlalu. Saat kudatangin (18/6) ketika itu, matahari terpancar warna kuning keemasan, terdengar samar suara mengaji, namun suasana masih riuh dengan pengunjung, diantara mereka ada yang memancing, mencari siput, ada juga menghabiskan yang namanya senja bersama keluarga, kekasih, beberapa penjual makanan, pakaian dan segala macam. Dan tempat-tempat yang dijadikan sebagai tempat perkir telah dipadati oleh kendaraan roda dua.

Dengan banyak pengunjung sepertinya tempat tersebut sudah layak disebut dengan tempat wisata. Sebuah bencana yang telah berlalu dan berubah menjadi taman yang menghabiskan anggaran Rp 91.773.756.000 yang berkerjasama dengan PT. Nindya Karya (persero), PT. Bumi Karsa KSO, anggaran yang diambil dari pajak.

Dengan anggaran yang begitu besar atas pembangunan di Situ Gintung setelah langkah awal yang mereka lakukan, melakukan penggusuran terhadap warga. Lalu dibaut taman yang cukup mewah. Tapi seperti tidak adanya bangunan yang menunjukan bahwa pernah terjadi bencana, paling tidak sebagai pengingat terhadap peristiwa yang melanda, dan pembelajaran terhadap peristiwa yang pernah terjadi sehingga kita bisa memperlakukan alam secara bijak, kalau diperlu dibuat sebuah musium atau perpustakaan.

Memang bukan berarti kita terus terlalut atas bencana tersebut, tapi sekedar untuk mengenang dan pembelajaran terhadap peristiwa yang pernah terjadi dan sehingga kita bisa memperlakukan alam secara bijak.

Walaupun mungkin terkadang sebuah bangungan seperti tak mempunyai arti, seperti halnya jalan yang bernama dengan daerah atau hal-hal yang lain. Dengan dibalik nama-nama tersebut apa yang hendak dimaksud? Adakah kita benar-benar hendak menghargai jasa pahlawan, seperti halnya sebuah patung Jenderal Sudirman yang terletak di jln Jenderal Sudirman.

Dan catatan ini bukan bermaksud untuk mengenang kembali atas peristiwa yang terjadi. Entalah, sebuah optimisme untuk menatap masa depan sah-sah saja, tapi masa lalu bukan berarti hilang begitu saja.

Sampan itu, Tempat Bergantung

Matahari memancarkan warna, dari pancaran warnanya banyak orang yang tergila-gila padanya. Ada yang yang berlari ke laut lalu mencatat tentang matahari itu, lalu diberi nama senja, ada juga yang memotret. Begitupula dengan saya, saat itu, saya melakukan perjalanan bersama teman saya.

Untuk teman saya, ia adalah orang yang menyukai foto. Oleh sebab kesukaanya maka, ia bertujuan untuk memindahkan peristiwa pada kameranya. Setelah menghabiskan berjam-jam lamanyan, akhirnya sampai juga ditujuan.

Angin menyambut kedatangan kami, deretan kapal berjejer dengan rapih. Diantara deretan kapal terdapat orang-orang yang sedang beraktivitas, ada yang memindahkan karung dari truk ke kapal hanya dengan melintasi sebilah papan sebagai penghubung antarnya. setiap orang yang mengakut karung dengan beratnya mencapai 50 kilo, akan bertabur warna putih, hal itu disebabkan isi dalam karung tersebut.

Akitivitas itu tersebut masih tetap berlanjut hingga matahari telah benar-benar lenyap atau bahkan entah sampai jam berapa? di sela-sela kapal besar tersebut, telah nampak sesorang yang telah berambut putih, ia berdiri di atas perahu kecil, sambil berujar untuk menawarkan terhadap setiap pengunjung di pelabuhan Sunda Kelapa agar mereka mau untuk menaiki perahunya.

Setalah dihampiri barulah tahu bahwa perahu tersebut bernama sampan, dan saat orang yang menaikinya, barulah ia akan mendayung. lelaki itu, berasal dari NTT, dengan logatnya ia mengucapkan bahwa hanya dengan uang Rp 10 Ribu, murah, maka kita akan diajak untuk melihat beberapa kapal besar dan segala macam keindahan dan kekurangan atas Sunda kelapa.

lelaki itu, semenjak merantau ke Jakarta banyak hal yang telah ia lakukan dari menjadi kuli belabuhan, hingga pengendara sampan. sudah hampir hampir 5 tahun menggantungkan diri sebagai sampan, dan sekarang untuk menjadi penarik sampan terasa sukar dengan rejeki hanya cukup untuk memenuhui kebutuhan sehari-hari terkadang tak cukup. "mungkin karena pengunjung Sunda Kelapa telah banyak yang berkurang." ungkapnya

Tapi, mau kerja apa lagi, jika masih ada tenaga mungkin saya akan menjadi kuli kembali. sekarang tenaga saya tak sekuat dahulu, dan sampan ini, merupakan satu-satunya tempat untuk menggantungkan hidup.

akhirnya kami putuskan juga menaiki sampan tersebut, dan dengan kealihan mendanyung sampan itu bergerak menyelip di anatara kapal pengakut barang. lalu pada akhirnya Sampan berhasil berada aliran air yang menghubungakan ke laut, airnya terasa kotor, banyak pelastik yang mengapung. apakah ini yang merupakan salah satu alasan yang mengakibatkan jarangnya pengunjung pelabuhan. kutatap temanku, ia masih asik asik menjepret segala macam aktivitas orang-orang yang ada di pelabuhan.

Sampan itu terus melaju sampai pada sebuah menara, ada perasaan takut saat ombak kecil menghantam sampan itu. saya hanya tertawa, sekali lagi teman saya masih sibuk dengan kameranya. Sedangakna sang pengendara sampan mendayung rejiki yang di dapati dari sampan tersebut. Lalu setelah kembali ke darat, kami pun pergi meninggalkan pemilik sampan tersebut. begitupula menginggalkan segala kenangan yang ada di pelabuhan yang bernama Sunda Kelapa dengan segala mesteri yang pernah terjadi

Di mana Umar Bakri?

“Kemana Umar Bakri?” “saya tidak tahu, mungkin sekarang dia sudah pensiun dan juga mapan.” “kalau pensiun mungkin, masalahnya ia sudah lama sekali menjadi guru. Tapi, kalau mapan, sepertinya tidak. waktu itu ia hanya menggunakan sepeda dan dia juga hanya pegawai negeri.” “apakah anda ada perlu dengannya?” “saya ingin mengetahui kabarnya saja, sebab semenjak ia meninggalkan sekolah dengan sepeda kumbang, sudah tak tahu lagi di mana keberadaan,” “oh, iya kenapa anda berbicara tentang mapan?”

Sebab menurut embah google semakin terdapat banyak orang yang mendaftarkan diri untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Setelah saya mencari-cari data orang yang telah mendaftarkan diri mencapai 76.704, itu hanya di daerah, dan itu terjadi pada tahun 2010. Bisa dibanyangkan jika seluruh Indonesia? Lalu kenapa meraka mau masuk, jika tujuannya bukan untuk,..........

“Bukanya itu bagus, jadi banyak orang yang akan mengabdi seperti Umar Bakri. Dengan demikian, maka Indonesia akan lebih makmur.” “jika tujuannya demikian, jika bukan?” “Anda jangan berprasangka buru.”

“Oke sekarang kita kembali lagi pada Bakri.” “Bolehkah saya bertanya, pak.” “Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan?” “kenapa anda berpikiran tentang Bakri?” “Saya ini pemimpin, jika saya tak berpikir tentang nasib Bakri, lalu siapa yang akan memikirkan nasibnya, dia sudah memberikan terlalu banyak buat Indonesia, salah satunya otak Habibie, dan kau tahu bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
“Kalau, bapak sepekat dengan kesejahteraan guru?”
“iya, saya sepakat. Terutama nasib guru honerer.”
“lalu apa solusi yang bapak tawarkan buat para guru.”
“entah, lah. Saat ini saya belum menemukan solusinya. Entar saya akan bicarakan dengan para pejabat lainya.”
“Seandanya, saja.”
“Seandanya apa?”
“Para pemimpin seperti bapak.”
“sudah,lah.”
Dialog seputar Umar Bakri yang diambil dari salah satu lirik Iwan Fals terus berlanjut. Sementara itu, guru Umar Bakri sedang mengajar tentang ilmu pasti di sekolah yang hendak rubuh. Di depan murid-muridnya ia hanya munggunakan kemeja dan membawa tas hitam dari kulit buaya. Selapas mengajar ia menganyunkan sepeda kumbangnya.

Apa Kabar, Rawit?

Saat raut wajah meneteskan keringat, dan bibir terasa pedas, saat itu terkadang mengutuk yang namanya cabe rawit, terkadang ada sebagian yang cukup menyebutnya dengan rawit. Dengan hanya berukuran sekelilingking bayi bahkan lebih kecil cukup untuk terus mengutuk diri.

Kutukan akan selesai saat rasa pedas hilang, lalu dengan nekatnya menyikatnya kembali seakan telah melupakan kutukan tersebut. Tapi, secara tiba-tiba semuanya berubah menjadi-jadi terhadap cabe tersebut.

Hal ini bukan hanya dikarenakan semakin pedasnya rasa. Tapi, saat itu, “bu, pake sambal.” Dijawab oleh pelayan warteg “tidak ada sambal.” “harga cabe, mahalnya.” Jawab pembeli. Kemahalan harga cabe pada bulan maret mencapai Rp 100 Ribu/kilo. Ini membuat orang merasa merasa wajib untuk mengutuknya.

Dan menganai atas harga tersebut petani seakan turut serta bertanggungjawab atas kegilaan harga tersebut. peran media yang begitu aktiv memberitakan harga cabe menjadikan Indonesia penuh dengan namanya cabe.

Bulan telah bergenti, dan sekarang apa yang terjadi dengan harga cabe? Media telah sepi memberitakan seputar cabe rawit. Dari sebuah data yang katanya dijamin kebenaran menyebutkan bahwa harga setengah kilo cabe mencapai Rp 5 Ribu, jadi harga satu kilo hanya Rp 10 Ribu.

Dengan hilangnya satu anggka nol membuaat harga cabe kehilangan harga Rp 90 ribu, dan jika dilihat dari ilmu statistik tentunya telah mengalami kemerosotan harga yang sangat total. Dan entah untuk bulan berikutnya?

Dari semua itu, sejenak untuk bertanya kenapa harga cabe melonjak sedemikian rupa dan begitupula menurun draktis? Apakah dari kenaikan harga petani diuntungkan, dan saat harga turun bagaimana dengan nasib Petani?

Selain itu, apakah dengan harga yang mencapai Rp 10 ribu/kilo merupakan harga yang wajar (stabil). Jika jauh dari harga stabil, seberapa seharusnya petani menjual harga cabe tersebut? saya kira mengenai peran tersebut sudah sepantasnya media juga masih turut terlibat dalam kesejahateraan masyarakat umumnya dan petani secara khusus untuk membantu meninjau dari kenaikan dan turunnya harga cabe tersebut?

Tak hanya itu, media juga dapat memberiakan tempat untuk petani berbicara seputar cabe tersebut, saya kira menteri seharusnya menteri pertaniaan lebih memahami petani dan dengan kebijakan dapat memberikan standar harga cabe tersebut.

Manusia yang Tersihir

Jangan percaya pada tulisan ini, tapi percayalah pada iklan. Dan jika belum juga percaya maka iklan tersebut akan membuatmu terasa begitu begitu menggoda. Berbincang mengenai iklan, apa sebenarnya iklan tersebut. Dari kata menggoda, apa yang sebenarnya membuat menggoda? Apakah kita tergoda dengan produknya, dengan bintang iklan, atau dengan keduanya. Terutama dalam hal-hal yang berbau kecantikan.

Kata cantik seakan telah menyihir orang, mungkin awal mulanya kata menggoda tak pernah mempan untuk menyihir para pembeli, tapi selanjutnya, saat imajinasi kita bermain dengan kata cantik itu sendiri. saat seorang yang menjadi bintang iklan dengan penuh kesempurnaannya lalu ia menjadi idola oleh beberapa orang, seakaan terciptanya kesempuranaan tersebut disebabkan oleh produk yang diiklankan.

Tak hanya itu saja kesempurnaan telah menyerap pada iklan. Sehingga seketika itu pula, kita membeli iklan. Lalu kita akan membanyangkan menjadi orang yang berada di bintang iklan. Benarkah demikian, silahkan anda coba saja.

Apa yang mengakibatkan kita tergoda lalu pengkonsumsi iklan tersebut? hal ini merupakan sebuah jawaban dari kegelisahan kita, kegelisahan yang tercipta tanpa disadari. Dan untuk menjawab kegelisahan salah satu caranya adalah dengan membeli produk tersebut.

Tapi terlepas dari itu semua, apa yang hendak saya katakan bahwa kata kecantikan telah menjadi kesepakatan umum. Lalu apakah sesoarang masih memiliki keberanian (percaya diri). Dan pada akhirnya tak lagi identitas yang hadir adalah banyangan dari banyang, banyangan dan mana yang asli tak lagi diketahui. Mengenai hal tersebut Jean Baudrillard (27 July 1929 – 6 March 2007)menyebutnya dengan simulcra.

Siapa Budilard, sedikit saya akan memberikan sebuah gambaran mengenainya. Ia adalah merupakan seorang filosof, sosiolog, politik. Dari beberpa pemikirannya, salah satunya ia membahasa tentang simulcra. Maka untuk itu pula, ia akan mengucapkan selamat datang, selamata datang di dunia hiperrealitas, yakni realitas yang berlibihan-lebihan. Atas berlibahan tersebut setiap orang menjadi buta akan realitas yang sesungguhnya.

Layaknya kata kecantikan itu sendiri, apa sesungguhnya makna dari cantik itu sendiri? dengan penggambaranya yang sedimikian berlebih-lebihan tentang kata cantik yang pada akhirnya pemaknaan yang sesungguhnya telah hilang. Dan hampir setiap orang menggambarkan tentang kata cantik adalah bahwa orang yang putih, bla, bla, segala macam. Dan kata “putih” telah mengalami menjadi kesepakatan umum sehingga orang yang bukan putih, di luar dari putih adalah ...................... Maka agar sesorang untuk mencapai tahap putih, lalu seandai ia telah berhasil

Dan jika pada akhirnya setiap orang berbicara bahwa yang cantik sebagaimana yang telah disinggung, lalu adakah sebuah kecantikan yang bersifat relatif? Relatif yang merupakan sebuah penilaian dari masing-masing individu untuk mengatakan tentang kata “cantik”.

Dengan hadirnya sebuah gambaran tersebut, maka tak salah jika anda berharap untuk mendapatknya, seperti halnya saya. Dengan banyangan untuk mencapai “putih” lalu setelah mendapatkan keputihan tersebut maka saya akan menjadi idola. Oleh sebab itu, maka saya telah memberi beberapa produk keputihan. Dengan kata-kata yang melebihi sikolog yang ada, “dengan memakainya anda akan mendapatkan wajah putih bersinar dalam waktu ....................minggu.

Saat kehilang ide, apa yang dilakukan?

Setelah beberapa hari pikiran terasa buntu untuk memikirkan mengenai apa yang hendak ditulis. Mungkin hal seperti ini telah menimpa kepada siapapun, kenapa aku dapat menyimpulkan hal seperti itu. Hal yang menjadi penyebab adalah dari beberapa teman sering berkata saya ingin menulis, tapi apa yang hendak ditulis, seakan sesorang telah dibingungkan dengan apa yang hendak ditulis. Ada juga yang berkata bahwa dalam pikiran telah banyak yang akan ditulis, tapi saat di komputer kata-kata tersebut hlilang.

Dari itu semua jika boleh disimpulkan merupakan kemiskinan tema atau mungkin lebih tepatnya adalah tak ada ide untuk menulis. Jadi untuk tulisan ini bukan sebuah karya ilmiah yang mempunyai latar belakang masalah lalu menyelesaikan masalah. Jadi kita bebas untuk menulis sesuka hati, lalu biarkan jemari memencet tombol-tombol di papan ketik.

Bukan itu pula yang diungkapan oleh beberapa penulis saat mereka menulis, tulis saja. Apa yang hendak ditulis? Tulis apa yang hendak kau tulis. Untuk itu, sambil mencari ide untuk disalurkan menjadi sebuah tulisan. Maka mencarinya sambil menikmati kopi dan sebatang rokok lalu, menatap TV, membaca koran, kupandangi diri untuk melihat apa yang telah terjadi. Tapi, yang terjadi sebuah gagasan belum juga muncul.

Sambil berpikir apa yang harus dilakukan untuk melakukan penemuan gagasan tersebut. Satu jam berlalu, dan seterusnya hingga terlelap ternyata sebuah gagasan enggan juga muncul. Imbas dari itu semua adalah terlelap dan waktu pun telah menunjukan pagi hari
.
Ternyata apa yang harus dilakukan saat mengalami kebuntuan ide belum juga menemukan jawabannya. Atas hal itu juga pernah diperbincangkan dengan beberapa orang terhadap hal tersebut, salah satu ialah Putu Wijawa seorang sastrawan, dialog yang terjadi di rumahnya pada waktu yang kebetulan saya telah melupakannya.

Tak ada kiat kusus yang dibicarakanya untuk menjawab atas persolan tersebut, selain beberapa beberpa ungkapanya yang mungkin bisa dijadikan solusi. Semoga saja.

Adapun mengenai jawaban sebagai berikut, hal seperti itu, merupakan hal wajar yang dirasakan oleh penulis. Dan jika saya mengalaminya, maka saya akan melakukan pemaksaan diri untuk tetap menulis dan akan berhenti menulis jika ide itu mengalir sangat deras, hal ini dilakukan agar ide itu terus mengikuti saya kemanapun saya pergi. Misalnya saya menghentikannya lalu pergi ke warung maka ide akan mengikuti saya terus, atau saat saya ada dimanapun maka ide itu akan terus mengejar saya. Berbeda halnya jika saya melanjutkan tulisan saya tatkala ide itu mengalir cukup deras, maka saya akan mengalami kebuntuan kembali.

Sambil tertawa ia juga menuturkan bahwa itu kreatif seorang penulis untuk menemukan sebuah gagasan tersebut adalah dengan banyak membaca, dan membiarkan ide itu datang dengan sendirinya, terkadang ide itu datang saat saya berada di meja makan maka saya akan mencatatnya.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan bagi anda juga. Dan jika menemukan sebuah ide yang lain, maka jangan sungkan untuk memberi informasi tersebut. terimakasih

Mengenal Budaya Melalui Film

Ada yang mengucapkan bahwa untuk mengenal suatu kebudanya melalui film, apakah pernyataan itu benar atau salah? Untuk jawaban tersebut bisa benar atau salah, tapi sebelum berbicara benar atau salah alangkah baiknya jika kita melihatnya terlebih dahulu. Pengenalan sebuah budaya memang bisa melalui sebuah media berupa film. Atau ciri khas yang melekat pada sebuah film sehingga film tersebut mempunyai identitas tersendiri.

Seperti halnya saat kita menyaksikan sebuah film India, dan akan terlintas apa yang menjadi ciri khas dari film tersebut, dan jawaban bisa jadi bahwa film tersebut tak lepas dari unsur menyanyi. Dari menyanyi merupakan sebuah gambaran dari film india itu sendiri. Dan tatkala sesoarang bertanya mengenai film India, unsur apa yang tak pernah terlepas dari filma tersebut? Jika jawaban adalah menyanyi, secara tak langsung dengan menyanyi seperti hendak menunjukan bahwa itu sudah merupakan menjadi bagian dari kebudayaanya.

Begitupula dengan film Cina dengan penanyangan tentang kungfunya, dan terkadang juga memaksukkan bagaimana unsur nasionalis dalam film tersebut. Dan pada akhirnya Cina diindentikan dengan kungfu

Lantas bagaimana dengan film Indonesia? Dari hari Senen hingga hari Senen hampir seluruh stasiun TV menayangkan film Indonesia baik disiarkan pada pagi atau pun malam hari. Bentuk tayangnan orang-orang menyebutnya dengan sebutan sinetron. Dan apakah yang terlihat dari sebuah film tersebut? Artis yang cantik, dengan kisah romantika cintanya, lalu artis tersebut mempunyai seroang pembantu yang indentik dengan logat bahas kedaerahan, atau orang yang agak terbelakang, dan seandainya tokoh utama adalah orang daerah itu masih terkesan agak menampilkan sosok yang penuh dengan kedaerahan.

Dengan kemunculan yang demikian entah apa yang hendak ingin ditangkap oleh para penonton. Dan belum lama ini, perfilman Indonesia marak kembali menampilkan Film setan, untuk film setan ini memang sedikit kreatif dari segi judul, yakni berupa keanehan judul-judul tersebut.

Selepas dari itu semua, mengenai film setan sendiri, bahwa terdapat sesorang yang mampu membunuh setan entah itu dukun, atau kiayi. Mengenai dukun seorang digambarkan melakukan pembakaran menyan denan taburan bunga, memegang keris lalu sang setan takut. Sedangkan kiayi dengan gambaran berupa memakai peci, memegang tasbih, lalu membaca asma Allah lalu sang setan ketakutan atau mati.

Terkadang sang dukun juga bisa merupakan sosok jahat, sedangkan orang yang kiayi adalah orang yang baik. Benarkah demikian, lalu apakah dalam film percintaan bahwa orang yang identik dengan logat kedaerahan merupakan orang yang terbelakang, atau lain adalah orang yang tak gaul, dan juga hanya pantas untuk menjadi seorang pembantu. Sedangkan dalam film yang berbau horor bahwa seorang dukun identik dengan yang memegang keris dan membakar kemenyan. Dan sebaliknya, bahwa orang yang selalu memakai peci adalah orang yang alim? Silahkan jawab sendiri, tapi bagaimana film telah membentuk sebuah konsensus terhadap bahasa itu sendiri, sehingga orang tampa melakukan penelitian kebenarannya menyakini bahwa itu telah benar adanya.

Jika tidak demikian adanya bahwa sebuah identitas dari budaya Indonesia bahwa ini merupakan sebuah gambaran dari salah satu budaya lokal Indonesia. Memang selain film tersebut, ada film yang menampilkan berbicara mengenai ke-Indonesiaan atau mewakili sebagaian kultur Indonesia, seperti halnya bagaimana kehidupan budaya Betawi yang dikemas dengan judul si Sidoel, mungkin masih banyak film yang menayangkan tentang kultur suatu daerah yang bagian dari kebudayaan Indonesia yang belum tersebutkan.

NB: tulisan ini sekedar pengamatan, dan setidaknya dengan tulisan ini dapat memberikan sebuah gambaran, dan perfilman Indonesia dapat lebih berguna.

Kemerdekaan Untuk Memilih

Berbicara mengenai pilihan tentunya, bagi setiap orang mampu mudah berbicara kata “pilihan.” Dengan berbagai ucapan seputar pilihan, seperti halnya berbicara bahwa ini adalah pilihan, atau tak ada pilihan, atau dengan ucapan bahwa tak memilih juga sebuah pilihan. Apapun bentuk dari pilihan tersebut, terdapat sebuah imbas dari pilihan tersebut.

Dari imbas tersebuat terkadang sebuah menghadirkan sebuah penyesalan dengan kutukan terhadap apa yang menjadi pilihan. Dan kata imbas terkadang disebutnya hukum kausalitas dalam dunia filasat.

Kembali kepada kata “pilihan” sendiri menguak sebuah pertanyaan, benarkah orang memilih atau adakah pilihan saat saat sesorang terjebak dan tak mampu melakukan pilihan lainya, atau seberapa kuat kita berjalan untuk meneruskan pilihan tersebut, kenapa kita memilih? Pertanyaan-pertanyaan ini memang setiap orang mempunyai kuasa untuk menjawabnya, dengan berbagai berbagai alasan untuk pertanyaan tersebut.

Lalu bagaimana dengan ungkapan bahwa tak ada kemerdekaan saat memilih, sehingga apa yang dipilih merupakan sebuah keterpaksaan, dan mungkin anda juga pernah merasakan hal seperti itu. Tapi, bukankah dalam sebuah pilihan merupakan bentuk dari kemerdekaan yang dimiliki oleh setiap individu. Seperti halnya kita bebes mau menghendak warna apa, bebas memilih kopi atau teh?

Kembali pada kata tak ada pilihan, untuk itu, saya hendak mengutip sebuah dialog yang terjadi pada film dibintangi Jackie Chan dan secara kebetulan untuk judul tersebut saya telah melupakannya. pada adegan itu, terjadi sebuah dialog antara seorang ayah yang sedang bersama anaknya, sang anak berbicara “ayah, saya lapar,” diiringi rengek tangis. Seakan tanpa sebuah pilihan akhirnya sang ayah memutuskan untuk mencuri sebuah roti di Supermaket.

Apa yang dilakukan oleh seorang ayah seperti tak ada kuasa untuk mengelak dari tekanan, dan tak ada pilihan selain mencuri roti. Atas putus tersebut benarkah tak ada pilihan, sehingga ia putuskan untuk mencuri, atau mencuri itu bentuk pilihan, bukan sebuah keterpaksaan? Maka silahakan jawab sendiri-sendiri.

Untuk itu saya hendak berbicara tentang “kemerdekaan” dan “pilihan”, dua kata mengenai sebarapa jauh sebuah kemerdekaan tersebut benar adanya sehingga kita dapat menentukan pilihan tanpa sebuah tekanan dari segala bentuk.

Kemerdekaan yang merupakan hak yang harus diperoleh oleh setiap individu, tampa harus diinterpensi dan menginterpensi seperti yang saya kutip dari seoran sahabat saya tatkala mengobrol di warung kopi, apa yang dibicarakan bahwa ia mengutip ungkapan Tan Malaka tentang kebebesan 100 %.

Selain itu bahwa bentuk dari kemerdekaan, yakni sebuah hak berupa kesempatan untuk mewujudkan atas apa yang menjadi pilihan secara adil, dan jika memang harus bertanding maka biarkan bertanding secara jantan, tak perlu lagi memandang siapa yang berbicara atau ia memiliki gelar apa, seberapa banyak uangnya, jadi teringat sebuah ungkapan bahwa jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.

Jika selama ini banyak orang yang mengeluhkan mengenai kata bahwa tak ada pilihan, kenapa hal tersebut masih juga terjadi, maka biarkan semua bertanya pada dirisendiri benarkah ia telah memberikan kebebasan terhadapa orang lain untuk memutuskan sebuah kemerdekaannya. Dan Jika ia telah bebas untuk memilih maka biarkan ia juga berhak juga menanggung segala macam konsekuensi atas apa yang menjadi pilihannya.

kata-kata itu, lagi

Terimakasih dan kamu bukan orang yang pertama berbicara tentang itu, ucapanku memotong pembicaraanya. Obrolan yang terjadi kira-kira dua hari yang lalu, setelah beberapa hari kami tak bertemu.percakapan yang terjadi seusai pertanyaan seputar apa kabar?

Seharusnya seperti apa? dan jujur aku tak mengerti mengenai apa yang harus dilakukan, selain melakukan ini. Aku bertanya padanya. "Paling tidak harus belajar yang lain, selaian itu?" jawabnya. "Contohnya?" Iya, a, b, c, d, jadi ketika dunia keraja membutuhkan suatu keahlian maka akan mudah untuk memasukinya.


Itu dia yang saya takutkan, terlalu banyak yang dikehendaki jadi takut tak ada yang fokus. lagian saya akan membutuhkan waktunya cukup lama untuk mencapai sesuatu kemampuan. selain itu, apa yang sedang saya lakukan saat ini takut terlepas. "makanya jangan terlalu idealis" "saya tak mengerti dengan kata-kata tersebut."


pada kata-kata itu, pula saya teringat dengan sebuah ucapan seseorang yang lebih dulu hidup dari pada saya, mungkin karena pengalamannya makanya ia dapat berbicara seperti ini, "hidup mengulang lebih cape, apa lagi jika kita harus belajar ini, itu, terlalu banyak yang diinginkan takut tak dapat yang diraih. atas ucapannya saya juga mengucapkan terimakasih. untuk nama dan siapa dia, biarkan hanya saya yang tahu.


Dan sekarang saya hanya ingin terus menulis, persetan tulisan saya hasilnya seperti apa. memang saya juga membutuhkan uang paling tidak untuk rokok, kopi, makan, dan bayar kos. Tapi, apakah ada jaminan saat saya belajar yang kamu sarankan akan mendapatkan sesuatu secara langsung.

Akhirnya percakapan malam hari itu, berakhir menjelang matahari nampak. saya pulang ke kosan dengan segenap pikiran bahwa hidup hanya perjalanan dan saya sedang mencari jalan atau melanjutkan jalan yang sedang ditempuh. dan satu lagi bahwa tak ada yang sia-sia saat melakukan sesuatu, tinggal sabar dulu saja. mungkin ini ujian, terimakasih teman atas semuanya terutama hidangan kopi dan rokokny

Saya akan membiarkan jalan yang kau pilih, itu jalanmu dan ini jalanku. satu hal kata-kata itu, sebuah kata idealis benar-benar membuat saya pusing dan tak mengerti. karena yang saya tahu bahwa idealis dimiliki oleh setiap orang, walaupun dengan jalan yang seperti apa? Dan ideanya Plato
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. vepiTouring... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger