Bedak bisa buat orang mati

Baru saja beberapa langkah kami meninggalkan ruangan, tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya “eh ada yang ketinggalan ga? Sembil berusah mengingat “bedak, bisa mati gw,” kata-kata yang keluar secara spontan, langusng saja, ia memalingkan badan, dan berlalari melewati anak tangga dan memasuki ruangan kembali.

Mengenai ruangan itu berada di lantai tiga berukuran kira 4x5m. Di dalamnya terdapat dua komputer yang kadang-kadang monitor menyela selama hampir 24 jam. Berbicara mengenai komputer, sering kali membuat seisi ruangan panik, bahkan tak berdaya menghadapinya, tatkala secara tiba-tiba listrik padam atau virus yang tiba-tiba menghapus data.

Berbicara tentang bedak dan komputer, memang berbeda dari segala sisi baik dari segi jenis, bentuk, harga. tetapi, ada satu yang membuat persamaan yakni sama-sama dapat membuat “mati” atau minimal resah orang, kok bisa? Mungkin juga, karena telah menjelama menjadi kebutuhan, jadi wajar merasa risau tanpa benda itu.

Saat berbicara kebutahan jadi teringat waktu di Yogyakarta. kala itu, kami yang asik duduk saling berhadap-hadapan. Kafe yang menyidiakan kopi, dan wedangan yang lain, tak luput ketinggalan bungkusan nasi yang biasa akrab “nasi kucing”.

Lontaran-lontaran ngalur-ngidul berserta kepulan asap rokok., dan tiba-tiba “harusnya dipisahkan mana kebutuhan dan keinginan, jangan-jangan telah menjadi satu.hingga tak bisa dipisahkan antara keduanya. Kaya, simulcra”. “Apa Simulcra dibicarakan oleh filosof Jean Budilrad”. Entah siap yang berbicara demikian, lalu ada nyeletuk “maka tak nanpak benang pemisah antar kebutuhan dan keinginan”.

Kalau sudah seperti ini, bisa-bisa kita tak lagi mengenali kebutuhan kita. Karena kita telah terjebak terhadap kebutuhan yang semu. Maka tak ubahnya manusia satu dimensi, sebutan yang digunakan oleh Marcus untuk mengatakan terhadap manusia yang tak memiliki dimensi lain. Wah pembicaraan yang benar-benar entah berantah.

Dan untuk kedua benda tersebut, memang tak mengherankan bila bedak ada yang panik begitu juga dengan komputer yang membuat resah. Lalu dari mana datangnya kebutuhan tersebut, mungkin, mulanya hanya melihat lalu menjadi keinginan dan saat telah terbuai olehnya, maka menjadi kebutuhan. Yang menjadikan perasaan nyaman, dan saat tak ada benda itu, ia akan bermain ke alam pikiran kita.

Yang pada akhirnya berimbas (Jangan-jangan) (di)perbudak oleh keinginan, seolah itu kebutuhan, seperti aku yang telah dibuat tak berdaya oleh rokok, terutama selesai makan Aku sendiri begitu merasakan, tatkala selesai makan lalu menyalakan sebatang rokok.

Lantas bagaimana dengan anda, apakah anda membutuhkan bedak, komputer atau hal-hal lain yang tak dicontohkan silahkan cari sendiri apa yang menjadi kegemaran anda.

(rungan inspirasi, 23/10)

“GilaaaaaaaaaaaaA”

Aspal yang memantulkan cahaya menambahkan suasana bertambah panas, suara kendaraan yang berlalu lalang saling menimpali klakson. Tiba-tiba “ TIIIIIIN” suara yang ke luar dari sepeda motor tepat di belakang tubuhku. Dengan pakaian serba hitam dan penutup kepala yang berwarna hitam pula.

“Sialan” lontaranku yang membuatku terpaksa semakin ke tepi karena hampir seluruh wilayah jalanku termakan olehnya. Mataku terus menatap rombongan motor yang melintas di hadapanku. Tersenyum terasa enggan, apalagi ucapan minta maaf atau makasih karena aku secara terpaksa memberikan jalanku padanya.

Sorot matahari langsung masuk ubun-ubun yang tanpa penghalang membuat keringat terus menetes, tenggorakan yang semakin kering. Lirikan mataku kanan-kira mencari perlindungan entah itu daun atau apa, yang ada hanya penghalang dari muntahan matahari. Mungkin memang sudah tak nyaman untuk pejalan kaki, dari harus berbagi jalan, pohon yang menjadi pelindung. “ah, lebih baik aku mempercepat langkahku.

Ih……………, wuh……………, asik………….., dan teriakan yang tak jelas, terikan yang saling bertumpang tindih beradu dengan klason membuat suasana bertambah runyam. Mukaku menoleh kanan sambil melangkah perlahan, dan saat setengah ruas jalan aku menoleh ke kiri dengan langkah perlahan. Lalu langkahku kubelokan sebelah kiri pertigaan.

Beberapa langkah dari pertigaan tubuhku mulai mengularkan bunyi dag, dig, dug, kaki terasa gemetar, tatapan tanjam menatapku.

Entah dari mana datangnya seorang laki-laki dengan tubuh agak membungkuk, perawakannya kurus, rambunya dibiarkan terurai, uraian rambut yang hampir sepunggung tercium bau yang begitu menyengat. Tangannya menenteng bungkusan plastik berwarna hitam. Matanya masih terus menatapku sehingga aku mulai menundukan kepala.

“ha….ha………ha………….”saura yang keluar dari mulut yang sekeliling tumbuh bulu-bulu hitam, makin lama suarnya makin keras. Entah apa yang ada dipikiranya, aku mulai dengan sejuta pertanyaan yang menyerang dan sekilat menuntut untuk segera meminta jawaban yang tak pasti. Ingin rasanya membalikan tubuhku dan berlari dengan sekencang-kencangnya.

Tubuhku semakin sukar untuk berbalik, belum sempat membalik jarakku semakin dekat, “apa yang membuatku semakin melangkah ke depan”? pertanyaan yang tak kukuasai, jarak pun semakin dekat.

Teriakan mereka yang menatapnya semakin menjadi-jadi, dan setiap orang yang melihatnya akan menjerit, walau sambil berlari, dan ada juga yang menutup mata dengan telapak tangan sambil mengintip dari celah-celah jemari.

Orang itu hanya tertawa, seakan menjadi asik dengan teriakan mereka. Terutama saat mereka menatap anggota tubuhnya, dan saat mereka menatap matanya, maka matanya akan menatap tajam, lalu ia akan tersenyum dan berlanjut denga gelak tawa, sejenak diam lalu berteriak “kenapa”?

Gelegar tawa yang beradu dengan sedan, motor, bus kota, bajai, dan semua pengguna jalan raya. Kakinya terus melangkah. Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit, ban yang dipaksa berhenti, diikuti truk yang berada tepat dibelkangnya diikuti dengan Metro Mini, KOPAJA, dan hampir saja sedan yang berwarna perak tertubruk dengan Truk, dan Truk oleh Metro Mini dan seturusnya hingga membentuk barisan tabrakan. Dengan klason dan makian “gila”.

Tubuhku semakin gemetar, langkahku terasa berat, pria itu semakin mendekat, tenggorokan bertambah kering, mulut begitu sulit berteriak. Laki-laki terus mendekat dengan tawa yang bertambah keras, apa yang harus kulakukan?

Orang-orang yang berada di seberang jalan meneriakan sesuatu kepadaku, tak begitu jelas apa yang mereka teriakan. Hanya bahasa isyarat yang digerakan oleh tangan, seperti isyarat untuk lari. Sorotan matanya semakin tajam, seoalah hendak menerka tubuhku yang gemetar, tawanya semakin keras. Jantungku kian berdetak keras.

Saat tepat di sampingku, meneleh lalu berbisik dengan lembut “lihatlah mereka yang menatapku atau pun yang berlalu lalang sesekali membunyikan klakson dan beradu klakson, seolah setiap detik begitu berharga.

Apakah tubuhku yang tak menggunakan pakaian ini memang layak untuk ditonton. Sedangkan mereka, tubuh yang dibalut pakaian berharap untuk dipandang, namun sayang terlalu banyak sehingga orang merasa enggan untuk memandang. Atau biar mereka merasa lebih tinggi, dan semua terasa benar-benar munafik.

Lantas siapa yang “Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriakan yang hendak memecahkan suara hening. Mulutnya keluar suara “Haaaaa. Haaaaaaaaaaaaa. Haaaaaaaa, aku tertawa untuk mereka, sedangkan mereka untuk aku, kita impas”. Berlanjut dengan tawa kembali.

Aku membalikan badan, saat tubuhnya tepat dibelakangku. Ia pun menoleh sambil tesenyum lalu dilanjutkan dengan suaranya yang telah khas dengan nya. Tubuhnya yang tak terbalu oleh sehelai benang pun, memberi tanda tanya?

(Sekret, 18/10)

Perkenalan dengan Umar Kayam

Siapa Umar Kayam? Waktu membawa jarak antara aku dengan dia. Aku hanya bisa mengenal kepribadian dari bentuk karya-karnya yang ditorehkan pada secarik kertas, hingga mencapai beberapa halaman. Hanya sebatas itu, tak ada perkenalan istimewa, seperti persahabatan yang diawali dengan secangkir kopi.

Ia memperkenalkan diri dalam bentuk candaan yang buat terkekek, terkadang juga merasakan sedih, tak jarang jua ku dapatkan perasaan bertanya-tanya atas tulisan tersebut.

Perkenalan berawal melulai sebuah novel yang berkisah mengenai “priyayi” dengan tokoh latip sebagai pemeran utama, untuk selanjutnya aku mulai berkencan dengan tulisan yang terangkum dalam “Titipan Umar Kayam”, tulisan yang tertera dalam kolom di majalah tempo yang telah dibukukan. Di dalam beberapa tulisannya, dengan gaya yang sederhana, dan tak jarang ia bercerita mengenai keluarganya, yang seakan menjadi wakil dari masyarakat yang ada.

Aku mulai bergulat dengan pemikiran, banyak dari kisah-kisah perwayangan sebagai bagian dari budaya jawa dan berujung kepada kritikan sosial. Sebagaimana yang tertera dalam lembaran halaman 55 yang berjudul tentang “Babat Alas Wanamarta”. Yang mengisahkan pembangunan kerajaan, babat dalam pengertian menghancurkan, alas berarti hutan, dan wanarmarta nama hutan.

Kerajaan yang akan didirikan di hutan wanamarta dengan cara meluluhlantahka penghuni yang ada di hutan tersebut. Dari pohon, binatang buas, jin. Yang pada akhirnya beridirlah kerajaan pandawa dengan ijin bahtara guru.

Lantas apa hubungan dengan kritikan sosial tersebut? Dalam pembangunan, tanpa sungkan-sungkan menghancurkan pemukiman yang telah terkandung nilai-nilai sosial, budaya masyarakat yang telah tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

Selain kisah itu, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, mengenai peristiwa yang terjadi di keluarganya, berupa kisah seorang anak bontot yang gemuk dan selalu siap menghadang bila tukang siomay lewat. Dengan gesit ia berlari mengejar tukang siomay tersebut, maka siomay pun menjadi makan faforit.

Selang beberapa hari si bontot tak melakukan aktifitasnya saat tukang somay berteriak may. Dengan rasa keheranan mengapa. Dengan berujar bahwa daging somay telah diganti dengan daging kucing. “dari kamu tahu”? “ dari emba” kakak perempuan dari bontot tersebut, dan kini telah menjadi mahasiswi.

Setelah dipanggil emba, lalu ia menceritakan dia tahu dari pembantu, dan pembatu menuturkan hal yang serupa. apakah benar keadaan masyarakat hingga ke lingkuangan keluarga mengenai fakta, isu hingga menjadi gosip.

Hal yang tak terkira dalam bacaan tersebut. bagaimana Umar Kayam mengakat hal-hal kecil sebagai inspirasi untuk diangkat ke permukaan. Bahwa begitu banyak persoalan-persoalan yang melanda masyarakat dengan kemungkinan tanpa diketahui oleh masyarakat itu sendiri.

Memang dalam buku itu, tak mengutarakan mengenai masyarakat. Hal ini, lah yang menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Ketika pembahasan kita, terasa jauh dengan masyarakat sekitar dengan penjelasan mengenai gambaran mengenai pengamatan pemuda kota terhadap desa.

Dan tak ayal jika suatu ilmu tak berarti ketika tak memiliki kepekaan terhadap sekeliling. Apakah pemimpin pernah merasakan tidur dengan bau sampah, dan perasaan was-was ketika atap rumahnya tiba-tiba datang hujan atau mesin-mesin penghancur rumah.

(Sekret 3 Agustus 2010)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. vepiTouring... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger