Penyebar

musyafir yang berteduh dalam fotomorgana
dalam sejuta asa yang terkebiri
kala lolongan anjing penjaga keburan
yang menaburkan aroma kematian

saat perjalanan untuk bersinggah

Wajah YanG usAnG

Terpajang senyum dalam bingkai kusam
Sorat mata memancarkan kesejukan
Semua terasa serba rindu
Sampai puncak gunung
kerinduan ini akan terobati
hanya anggur sebagai pemuas rasa
Kau sembunyikan air mata dibalik senyum
Tidurmu dalam jagaku
Jeritku dalam jeritmu
Air mataku dalam air matamu
Dongengmu dalam lelapku
Kisah yang terputus dalam lanjutan usia
Dalam waktu yang mencabut
Kau lemah menatapku tak berdaya
Kau bercerita tentang hari esok
Kau bercerita tentang
Canda tawa hadir
Kini kau berada diantara ratusan tumpukan tanah
Ribuan air mata mengantarkan kepergianmu
Dalam pohon kamboja yang membisu menyaksikan air mata
Kau tetap dalam bingkai terindah
Tak ada yang bisa menggantikan kehadiranmu
Dia hadir bukan untuk menggantikanmu
Yang tak akan pernah kusam
Mimpi yang terkurai lemah
Bersama botol yang berserakan
Diantara pengantar-pengantar surga.
Sosok yang membuat aku tak berdaya
Mawar merah telah memutih
Hitam Kelam

haMpa dalam Hasrat

Lelah ku melangkah

Dalam lorong malam

Saat penantian tak kunjung tiba

Kuharap kini hadir fajar

Ku masih berharap terbang

Dalam dunia penuh impian

Sama saat aku mulai meminum

Seteguk melelehkan akan kecemasan

Lalu diajak untuk terbang

Menembus ruang yang telah lama memanjarakanku.

Aku tak mau seperti bunga mawar

Seiringnya waktu

Tak mempunyai hak akan kekuasaanya

Dan semua telah terlewati

Kini hanya kenangan akan hal ini

Bunga tak akan lagi mekar dalam ego

Dan semua kembali dalam kekosongan

GiLa

Aku terlelakan disini
Bersama gelak tawa mereka
tersingkir dalam dunia
Saat ini atau saat nanti

Kegilaan ini mungkin berkah
Saat aku benar-benar gila
Dan gilaku ini tak lebih gila atas mereka
Yang seakan suci membungkus kegilaan

Tawaku ini bukan sekedar tawa
Atas tangis hanya sekedar tangis
Jijik aku, sejijik kamu melihat aku

Ingin kuinjak tanah basah
Dalam gengam sang pelita
Ingin kumenangis bukan sekedar tangis
Saat aku disini dan benar-benar disini

Pikir bukan sekedar pikiran
Saat aku berfikir dalam kukur
Hitam kini telah putih
Dalam kertas warna hidup

Puas kuhirup tanah mati
Yang hidup dalam hati
Terus tumbuh dan berbuah
Saat embun basahi bejana

Kain ini hanya selembar kain
Yang berwarna tampa makna
Simbol hanya sebagai simbol
Sejarah hanya goresan cerita

Kain ini penuh warna Darah
Saat ibu masih terkulai
Bebas kini dalam tulisan
Bukan nyata dalam kenyataan

Selamat Datang

Selamat Datang

Dunia

gila

janji

jilat

impian

terbunuhnya rasa

harapan yang sirna

sengaja kutulis judul dengan kecil karena semua Nampak samar.

Terselimutkan senyuman dibalik taring.

kemanA

Tanpa kata
Yang terdengar suara entah dari mana
suara-suara yang terus berseliweran
Akan dibawa kemana
Diam berdiri
Atau lari darinya
Ketakutan akan hari esok
Dengan segala mesterinya
Teka-teki yang tak akan pernah terjawab
Yang tersampaikan hanya pesan
Dari hitam-putih
Atau tak ada untuk pula
Pesan sang sisyuphus
Dalam pendakian.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. vepiTouring... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger